UIN Alauddin Makassar

” Urgensi Keperawatan Forensik di Indonesia “

Era Globalisasi membawa pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  berkembang pesat. Era tekhnologi mengubah perilaku masyarakat terutama masyarakat Indonesia yang terkenal dengan toleransi, kekeluargaan, dan menjunjung tinggi adab dan budaya ketimuran menjadi masyarakat yang lebih agresif, reaktif dan mudah terpancing emosi. Meningkatnya berbagai kejahatan menuntut penegak hukum meningkatkan kemampuan memerangi kejahatan, menangkap pelaku, dan memberikan sangsi sesuai peraturan yang berlaku. Peningkatan kemampuan Olah TKP, identifikasi, serta melacak jejak-jejak pelaku sudah harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya dalam konteks hukum tetapi juga konteks ilmu forensik.

Kejahatan berulang menyebabkan angka kesakitan dan kematian meningkat, ini membuktikan pentingnya keilmuan forensik dapat dipahami oleh seluruh tenaga kesehatan pada front line pelayanan. Perawat dituntut memiliki keterampilan forensik untuk memberikan perawatan pada korban maupun pelaku kekerasan. Keterampilan forensik digunakan dalam membangun fondasi yang konkret ke sistem hukum dan keadilan yang lebih stabil dan efektif. Kekerasan adalah akar yang biasa dari semua kasus keperawatan forensik. Kasus kekerasan dapat kita lihat dalam berbagai bentuk seperti pelecehan verbal, pelecehan emosional, kekerasan fisik, perusakan properti, kekerasan seksual atau perkosaan, pembunuhan, dan banyak lagi.

Keperawatan forensik adalah bidang baru dalam asuhan keperawatan, pada tahun 1986 Virginia a Lynch sebagai ibu keperawatan forensik merancang model keperawatan forensik international. Pertama kali pada tahun 1992 sekitar 70 perawat dan pemeriksa gangguan seksual berkumpul di Minneapolis untuk bersidang dan merumuskan organisasi yang dikenal dengan Asosiasi Perawat Forensik Internasional (IAFN), yang sekarang berfungsi sebagai unit sentral untuk mengembangkan dan mempromosikan keperawatan forensik secara nasional dan internasional. Pada tahun 1995, Asosiasi Perawat Amerika (ANA) memproklamirkan keperawatan forensik menjadi spesialisasi resmi.

Dalam waktu singkat, sejarah keperawatan forensik harus diakui terutama saat dunia semakin terekspos oleh tindakan kekerasan. Dengan terus meningkatnya angka kejahatan, keperawatan forensik dengan cepat menjadi popular. Kita hidup dalam realitas sehari-hari yang dikelilingi oleh kekerasan, kecelakaan dan banyak jenis trauma dari kekerasan seksual hingga kekerasan dalam rumah tangga, fakta ini menunjukan bagaimana kontribusi dunia kesehatan yang lebih erat dengan hukum. Ilmu keperawatan forensik mewakili pandangan dunia yang muncul di masa depan.

Ilmu forensik bagaikan dua sisi kejahatan dan kekerasan serta kesehatan dan keadilan yang paling berpengaruh dan mempengaruhi kehidupan orang-orang di seluruh dunia. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk mengatasi masalah-masalah penting yang terkait dengan kekerasan dan trauma terkait dengan keilmuan yang multidisipliner. Hal ini membutuhkan upaya bersama yang melibatkan dokter, perawat, petugas kepolisian, pengacara, hakim, sosiolog, psikolog, pekerja sosial, ilmuwan forensik, politik, aktivis, dan praktisi peradilan pidana lainnya untuk mengurangi dan mencegah ketidakadilan sosial.

Manajemen kasus forensik yang efektif adalah daerah yang kurang di sentuh dalam kebijakan dan undang-undang yang cukup untuk memastikan perlindungan terhadap hukum perdata dan hak asasi manusia terhadap korban dan terdakwa. Keterampilan khusus forensik yang masih kurang dimiliki oleh tenaga kesehatan telah mengakibatkan defisit kualitas yang serius terhadap layanan forensik. Strategi terkini untuk menambah dan meningkatkan standar global perawatan untuk korban kejahatan, yang dituduh secara keliru dan mereka yang salah dihukum mengharuskan aplikasi ilmu forensik ke praktik keperawatan.

Dengan berdirinya The Innocence Project, sebuah organisasi litigasi dan kebijakan publik AS yang didedikasikan untuk membebaskan individu yang dihukum secara salah melalui Tes DNA, kebutuhan untuk mereformasi sistem peradilan pidana akan mencegah ketidakadilan lebih lanjut telah diakui. Kebijakan ini telah memiliki dampak besar pada standar ilmiah i yang tepat dari bukti biologis, jejak dan fisik pada pendokumentasian yang teliti terhadap spesimen medis yang dijadikan sumber DNA seperti darah dan noda darah, air mani dan jaringan dan sel, fragmen tulang dan organ gigi.

Devaluasi kehidupan manusia melekat pada asal-usul kekerasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui kekerasan sebagai masalah kesehatan masyarakat utama yang berbahaya seperti mikroba penyakit di seluruh dunia. Kekerasan global diakui secara luas dalam domain kesehatan dan keselamatan publik. Sebagai tambahannya trauma fisik dan psikologis, yang meresap sifat kekerasan mempengaruhi aspek dasar dan mendalam dari kehidupan: budaya, tradisi dan agama. Intensitas dramatis yang mendadak krisis ekonomi, politik, dan kemasyarakatan yang dikombinasikan dengan kejahatan interpersonal dan kekerasan terkait teroris di masyarakat global menuntut akuntabilitas yang luar biasa untuk kesehatan dan keadilan untuk berkolaborasi dalam mencari solusi. Kekerasan tidak lagi dianggap hanya dalam lingkup penegakan hukum lembaga tetapi dipandang sebagai tanggung jawab bersama perawatan kesehatan dan hukum.

Strategi untuk meningkatkan derajat kesehatan suatu bangsa harus mampu mengatasi masalah-masalah prioritas yang melibatkan kekerasan antar individu dan kekerasan seksual yang menjadi kontributor penting dalam menyebabkan angka morbiditas dan kematian prematur meningkat. Dinamika tradisi budaya kuno dan religius akan terus berdampak dan menimbulkan ancaman terhadap subjek yang paling rentan, yaitu, wanita, anak-anak, orang tua,orang cacat, dan mereka yang berada dalam kemiskinan ekstrim.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS telah mengakui bahwa hasil kekerasan yang tak terelakkan (cedera, cacat,dan kematian) sebagai tolak ukur utama status kesehatan masyarakat. Profesional perawatan kesehatan ditantang untuk meningkatkan akuntabilitas bersama dengan aparat penegak hukum untuk sebab dan akibat yang terkait dengan kekerasan manusia. Tantangan ini telah mendorong evolusi dan aplikasi ilmu keperawatan forensik. Setiap luka, penyakit, atau kematian bisa memiliki implikasi forensik.

Kebutuhan keperawatan forensik dalam melakukan pemeriksaan terhadap suatu kejadian yang ada hubungannya dengan perawatan dan layanan kesehatan menjadi hal yang sangat mendesak, terutama untuk kasus dengan tingkat kecurigaan yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan forensik untuk perawat penting untuk disediakan dalam pengembangan ketajaman klinis yang diperlukan untuk menanggapi keadaan forensik ini. Semakin meningkatnya kasus kejahatan dan kriminalitas di Indonesia menuntut sumber daya perawat forensik yang terampil dengan kompetensi khusus yang dihasilkan dalam penghancuran bukti, waktu yang lama dalam respon medis, hilangnya nyawa manusia, dan tuntutan yang tidak memadai.

Keperawatan forensik menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama dalam mensosialisasikan, menyebarluaskan, dan mengembangkannya di negeri kita tercinta Indonesia, mengingat pentingnya peran perawat forensik dalam membantu pemerintah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Copy link
Powered by Social Snap