UIN Alauddin Makassar

Universitas Berbasis Riset Menuju “Kampus Berperadaban”

Dalam dunia metafisis, prinsip inferensi menyatakan bahwa: Barang Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Kita mendapat petunjuk bahwa manusia mengenal dirinya sebagai pembukaan untuk mengenal Tuhannya, karena pengenalan terhadap Tuhan sebagai hasil dari pengenalan dirinya sendiri. Begitu kecil dan lemahnya manusia di hadapan Tuhan dengan kebesaran dan kekuatan-Nya, manusia diberi isyarat untuk terus dan senantiasa mempelajari apa yang ada dan terjadi pada dirinya untuk mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.

Bukan hanya Nabi Muhammad Saw yang telah memberi isyarat dapatnya manusia mengkaji hal-hal kecil untuk mengetahui sesuatu yang lebih besar, Tuhanpun berfirman dalam Al Quran (QS: Fushshilat 41:53). Terjemahnya: kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bahwa Al Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesunggguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Tuhan yang maha kuasa menganjurkan kepada manusia untuk berpikir dan mempelajari segala sesuatu yang tersebar dimuka bumi, maupun diangkasa raya, dan pada diri manusia sendiri untuk mengenal tanda-tanda kekuasaan Tuhan Yang Maha Besar.

Demikianlah gambaran inferensi yang dapat diajarkan dalam dunia metafisis. Selanjutnya, kita akan berbicara dalam dunia nyata atau dunia fisis. Kenyataan yang ada saat ini perguruan tinggi sekedar menjadi tempat belajar saja, sedangkan risetnya lemah. Lembaga pendidikan tidak akan maksimal memberi konstribusi kepada masyarakat dan negara jika hanya bergelut dalam pendalaman satu materi ajar saja, maka tidak heran jika mahasiswa yang datang kekampus hanya mendapatkan teori saja.

Keberadaan perguruan tinggi memiliki peran yang strategis ditengah-tengah masyarakat. Peran strategis tersebut memiliki wacana besar yaitu universitas pengajaran (teaching university), universitas riset (research university), dan benteng peradaban (bastion of civilization). Secara tradisional ketiga peran tersebut tersirat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi di Indonesia.

Kekuatan riset bernilai sangat tinggi dan luar biasa berkontribusi bagi kemajuan suatu bangsa. Indonesia sejatinya masih kalah dengan Malaysia dan Singapura terkait riset. AS pada tahun 1800-an jauh tertinggal dari Argentina dan Kuba, tapi karena melalui riset kini mereka mampu menjadi negara adidaya. Begitu juga dengan Jepang yang pada tahun 1960-an memiliki produksi barang dengan kuaitas buruk kemudian melalui riset mereka dapat merajai dunia teknologi yang berkualitas.

Kekayaan suatu negara juga tidak akan menjamin kejayaan suatu negara dalam jangka waktu yang lama. Kamboja pada tahun 1200-an adalah negara yang kaya tetapi lama-kelamaan mereka meredup karena tidak ada pengembangan Ilmu pengetahuan. Apa yang ingin saya jelaskan dari contoh nyata negara tersebut adalah bahwa kemajuan dan kejayaan sebuah institusi seperti UIN AM akan dapat kita bangun menuju kampus`berperadaban dengan pengembangan ilmu pengetahuan melalui universitas berbasis riset.

Di negara-negara maju, negara dan universitas memiliki hubungan simbiosis mutualisme dalam hal riset. Hasil riset di universitas menjadi dasar dalam merancang pembangunan. Dukungan negara mendorong universitas untuk membentuk pusat-pusat penelitian yang hasilnya dipublikasikan melalui jurnal ilmiah. Universitas yang mendapat ranking dunia tahun 2012 semuanya berbasis riset. Universitas terbaik didominasi oleh perguruan tinggi dari Amerika dan Inggris, hanya ada dua perguruan tinggi di Asia yaitu University of Hong (peringkat 23) dan National University of Singapore, NUS (peringkat 25). Diantara indikator untuk menentukan ranking universitas adalah berbasis riset dan publikasi jurnal internasional.

Data LIPI menunjukkan Indonesia masih jauh tertinggal dibidang penelitian dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Peneliti resmi kita berjumlah 8.000 dengan penduduk 237.641.326 sedangkan Korea dengan jumlah penduduk hanya 55 juta jiwa memiliki peneliti resmi sejumlah 270.000. hal inilah yang menyebabkan rendahnya daya saing kita dalam publikasi ilmiah, belum lagi rendahnya anggaran penelitian yang dialokasikan. Daya saing riset kita rendah dimana data menunjukkan sejak 2001-2010 hanya 7.843 sementara dalam waktu yang sama Malaysia dan Singapura telah mempublikasikan diatas 30.000. dunia akademik Indonesia belum diperhitungkan dunia karena masih kurangnya publikasi jurnal ilmiah yang berbasis riset untuk mengatasi berbagai problema sosial.

Rendahnya daya saing dalam hal publikasi jurnal ilmiah harus menjadi pemicu Adrenalin kita sebagai lembaga pendidikan untuk mengejar ketertinggalan. Kita memiliki bonus demografi yang besar, infrastruktur yang memadai, fasilitas kampus memadai, terutama Sumber Daya Manusia yang berkualitas dalam kualifikasi dan kompetensi, sehingga potensi keilmuan dan riset masih bisa kita kembangkan. Saya yakin bahwa pendidikan berbasis riset berkembang dalam beberapa tahun kedepan akan berdampak terhadap perubahan kampus berperadaban.

Islam sebagai motivator pengembangan peradaban secara tegas menjelaskan dalam Al Quran anjuran untuk menuntut ilmu, perintah agar membaca (iqra’), melakukan observasi (a-fala yaraw-na), eksplorasi (a-fala yanzhuruna), dan ekspedisi (siru fi l-ardi), melakukan “inference to the best explanation”- dalam istilah falsafah kontemporer serta berfikir ilmiah rasional (li-qawmin ya’qilun, yatafakkarun). Pendek kata, pesan senada yang intinya mengecam sikap dogmatis atau ’asal terima’. Begitu gencarnya ayat-ayat ini didengungkan, sehingga belajar untuk mencari ilmu pengetahuan diyakini sebagai kewajiban (faridah) atas setiap individu muslim, dengan implikasi berdosalah mereka yang tidak melakukannya. Dalam hal ini sangatlah jelas bahwa kita dituntut untuk senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan dengan melakukan kajian-kajian mendalam melalui riset/penelitian.

Pada tataran praktis, doktrin ini membawa dampak yang sangat positif, ia mendorong mempercepat terciptanya masyarakat ilmu (knowledge society) dan budaya ilmu (knowledge culture)- Dua perkara terpenting yang bertanggungjawab dalam melahirkan sebuah PERADABAN. Pertanyaan yang mungkin bukan hanya saya yang sering merenungkan dalam hati kapan dan seperti apa kampus berperadaban??? Angan-angan dan harapan yang besar membawa saya berfikir jauh diluar batas ambang brain, heart and hand. Penekanan yang diberikan Islam terhadap pentingnya ilmu dan perhatian serius terhadap pencarian berbagai cabang ilmu adalah dalam rangka usaha meraih kebahagiaan sejati, dan bukan sekedar memenuhi kebutuhan sosial ekonomi (self-aggrandizementatau personal gain).

Bagaimana kita membangun kampus berperadaban? Ketika menilik kembali tentang sejarah yang cukup panjang, pilar-pilar kecemerlangan kehidupan dibangun dengan ilmu pengetahuan. Saya pikir kita tidak perlu meragukan ilmuwan cerdas sekelas Al Biruni, Ibnu Sina, bahkan Ibnu Batutah yang termasyhur dengan petualangannya di beberapa penjuru dunia. Semua tokoh yang menyejarah memiliki keahlian yang sangat beragam namun ada satu benang merah kesamaan diantara semua tokoh tersebut adalah selain kualitas keimanan mereka juga cara pandang dan sikap mereka terhadap ilmu. Inilah fakta yang menarik yang harus sama-sama dipahami tentang kehadiran orang-orang hebat yang benar-benar berilmu.

Sejak zaman kuno tujuan ilmu adalah mencari kearifan, tujuan ilmu berubah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk menguasai dan mengendalikan alam. Dunia ilmu pengetahuan adalah dunia yang objektif, universal dan rasional. Sementara kita tidak dapat melepaskan diri dari dunia sehari-hari dan tradisi dalam bentuk kepercayaan dan prakteknya. Ilmu pengetahuan merupakan produk dari kebudayaan enlightenment, PENCERAHAN maka pertanyaannya adalah apakah ilmu pengetahuan dengan sendirinya menghasilkan enlightenment thinking and action dari manusia moderen sekarang ini.

Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan dan mengungkapkan gejala-gejala alam. Bagaimana komet yang sebelumnya dilihat sebagai bukti kemurkaan Tuhan atau tanda nasib buruk seseorang, sampai dapat dijelaskan dengan hukum gravitasi. Belum lagi dilihat dari dunia kesehatan yang harus bergulat melawan kepercayaan tradisional yang syarat takhyul maupun didukung kekuatan moralitas agama yang sempit mulai dari demam sampai transplantasi jantung. Oleh karena itu sebagai insan intelektual yang berfikir kritis, analitis, dan rasional adalah absolutely for improving our campus toward civilization era. Bagaimana kita bisa menjawab tentang kampus berperadaban melalui research university.

Namun demikian ujung dari keseriusan ini adalah prestasi atas konstribusi kita terhadap ilmu. Bukan sekedar penghargaan, pujian, sanjungan atau nama yang dielu-elukan karena keberhasilan pencapaian tertentu. Prestasi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan melalui riset adalah Salah satu kunci keberhasilan yang menjadi dasar kecemerlangan peradaban. Semangat untuk menghidupkan sendi-sendi peradaban tentu tidak bisa terlepas dari pentingnya penguasaan atas ilmu. Disinilah kampus UIN alauddin menunjukkan eksistensinya, dimana seluruh pemuda, ilmuwan, cendikiawan, intelektualis berkumpul dengan motivasi besar mendapat ilmu sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu kampus merupakan Space/Ruang yang signifikan dalam pembangunan pilar Peradaban. Ditempat inilah peluang menguasai ilmu dan mengaplikasikan dengan seluas-luasnya sebagai syarat bebas nilai. Kampus berperadaban sebagai ruang untuk mensinergikan antara ilmu, iman dan ihsan sehingga mempunyai nilai yang sangat mahal. Eksistensinya adalah pertanda kehadiran peradaban yang sudah lama kita impikan.

Kampus berperadaban mampu melahirkan ilmuwan dan cendikiawan multidimensi yang keilmuwan mereka bersifat transdisipliner. Karena itu kajian terhadap struktur kurikulum kampus berperadaban harus bersifat tauhid, komprehensif dan integrasi keilmuan yang mencerminkan keutuhan ajaran keuniversalan islam. Kampus berperadaban harus mampu memanifestasikan dirinya sebagai universitas yang mencerminkan ciri-ciri manusia universal yang cara pandangnya memiliki otoritas dalam beberapa bidang ilmu yang saling berkaitan.

Tugas utama kampus berperadaban adalah melahirkan manusia yang berkualitas pada aspek pemikiran (tilawah/kognitif), akhlaq (Tazkiyah/afektif) dan amal (ta’lim/psikomotorik). Pembinaan pada ketiga dimensi tersebut sejalan dengan teori sosial dan filsafat sejarah bahwa sebuah perubahan bermula dari Ide, keyakinan dan berakhir dengan tindakan. Memiliki kekayaan ide yang kuat dan matang, kemampuan mensosialisasikannya kepada masyarakat sehingga masyarakat dengan kesadaran yang tinggi bergerak dan bertindak secara kolektif melakukan kerja rekonstruksi peradaban.

Semua dapat kita capai jika kita tekun untuk terus berbenah diri melalui kajian-kajian ilmiah dalam rangka pengembangan menuju kampus peradaban melalui universitas berbasis riset. Jika universitas menggunakan pola pendidikan dan pengajaran yang berbasis kajian-kajian terlebih dahulu terkait dengan materi maupun bidang ilmu yang akan diberikan kepada mahasiswa. Kajian terdahulu menjadi penting dalam rangka membangun konsep yang saling mengkritisi. Namun tradisi ini hanya akan muncul manakala terdapat tradisi riset yang kuat diperguruan tinggi. Sesungguhnya membangun iklim penelitian diperguruan tinggi harus dibarengi dengan pemihakan dari pengambil kebijakan untuk kepentingan tersebut. Tanpa pemihakan maka tidak mungkin menjadikan perguruan tinggi berbasis riset.

Universitas berbasis riset akan sangat membantu dalam menghasilkan produk-produk ilmiah pengembangan karena semua data tersedia dalam base line data yang sangat diperlukan dalam menggerakkan kegiatan-kegiatan dalam rangka membangun peradaban. Jika kita sudah dapat merencanakan kegiatan berdasarkan evidence based maka efektifitas dan efisiensi akan tercapai. How to work cost effective, high benefit and low risk with research university.

Universitas berbasis riset akan sangat membantu dalam menghasilkan produk-produk ilmiah pengembangan karena semua data tersedia dalam base line data yang sangat diperlukan dalam menggerakkan kegiatan-kegiatan dalam rangka membangun 3 dimensi bangunan peradaban. Jika kita sudah dapat merencanakan kegiatan berdasarkan evidence based maka efektifitas dan efisiensi akan tercapai.

Empat hal melalui ilmu pengetahuan menuju kampus berperadaban yaitu:

Pengamatan melalui riset harus diakui bahwa kita dapat meyakinkan orang lain melalui pengamatan yang dapat dijelaskan melalui hasil riset. Sebagai contoh kemampuan teleskop untuk melihat jupiter mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah percaya tanpa adanya bukti pada pengamatan dengan tanpa rasionalisasi. Sehingga dengan menggunakan kemampuan pengamatan kita dapat dengan mudah melakukan kajian-kajian untuk pengembangan kampus berperadaban.

Otonomi dunia fisik: selain percaya pada pengamatan, ilmu pengetahuan berangkat dari suatu filosofi tentang alam sebagai sesuatu yang otonom yang memiliki hukumnya sendiri. Dalam masyarakat ilmuwan hukum gerak yang dikemukakan Galileo bahwa sebuah benda bergerak terus dengan arah dan kecepatan sama sampai ada sesuatu yang menghentikannya jauh lebih meyakinkan daripada ajaran agama bahwa Tuhan menciptakan alam berinteraksi dalam alam. Dalam hal ini kampus berperadaban akan senantiasa mampu menegakkan konstusional dan kredibilitasnya melalui aturan dan keteraturan yang dibangun berdasarkan pendekatan proaktif, empatik, jujur dan dialogis.

Disingkirkannya konsep tujuan, bahwa ilmu pengetahuan hanya mengenal sebab efisien dari suatu peristiwa. Jika diajukan sebuah pertanyaan seperti mengapa banyak orang meninggal karena kanker, dokter tidak akan menjawab seperti kita mengenal rencana Allah (inilah sebab final/tujuan) melainkan menjelaskan hal-hal yang menyebabkan kanker dan penyebab klinis kematian. Dalam hal ini kampus berperadaban memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan menyebarluaskan dalam rangka meningkatkan profesionalisme (core competence, management, and strategic thinking), kredibilitas moral (komitmen nilai), dan kredibilitas sosial (human relation).

Tempat manusia dalam alam. Dari segi kontempelasi tampaknya ilmu pengetahuan merendahkan manusia bahwa manusia tidak ada artinya dalam seluruh alam semesta. Namun dari segi praktis ilmu pengetahuan dapat mengangkat manusia justru karena ilmu pengetahuan manusia dapat berbuat banyak bagi kemaslahatan. Manusia akan tampak menjadi lebih berkuasa dan ilmu pengetahuan telah meningkatkan kesadaran akan kekuasaan. Ilmu pengetahuan berimplikasi terhadap cara berfikir manusia dan masyarakat pada rasionalitas. Dalam hal ini riset akan mengarahkan kampus berperadaban mampu berlayar diatas kemajuan zaman dengan penguasaan dan pengembangan tekhnologi.

Dibalik manfaat yang telah dipaparkan, universitas berbasis riset memiliki potensi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan menuju perwujudan kampus berperadaban.

Demikian sekilas pemaparan saya mengenai pemikiran sederhana menuju kampus berperadaban. Universitas berbasis riset adalah salah satu upaya menyiapkan base line data universitas menuju pada aktivitas evidence based. Kita dapat melihat bahwa hanya dengan menguasai data dan bekerja berdasarkan data kita dapat mencapai hasil yang berkualitas dan dapat diukur secara kualitatif maupun kuantitatif. Dengan kemampuan ini kita dapat mempelajari kodrat Allah dan kekuasaan mutlak-Nya yang berupa keteraturan alam semesta. Keteraturan dalam wujud biji mangga tumbuh menjadi pohon mangga dan menghasilkan buah mangga, ayam bertelur dan mengerami telurnya menghasilkan anak ayam merupakan contoh keteraturan substansial.

Upaya manusia mempelajari keteraturan esensial yang terjadi pada burung yang bisa terbang dengan sayapnya dan pemanfaatan tekhnologi canggih menjadikan manusia dapat merangkai besi/baja menjadi pesawat yang bisa terbang. Bila wawasan kodrat Allah dan kuasa Mutlak-Nya dapat ditampilkan seperti keteraturan ciptaan-Nya maka penggunaan tekhnologi tidak perlu membawa kehancuran. Ilmuwan yang berakhlak dengan tekun dan selalu memohon petunjuk-Nya lewat kajian kitab suci-Nya, melakukan penelitian untuk menemukan keteraturan gejala alam semesta dan manusia sebagai bangunan fundamental peradaban dan mencoba merekayasa temuan baru akan semakin meyakinkan kita menuju kampus berperadaban.

 

 

Copy link
Powered by Social Snap