UIN Alauddin Makassar

” Tantangan Pendidikan Perdamaian di Indonesia “

Sekolah adalah tempat mengembangkan kemampuan fisik dan intelektual, belajar nilai, berinteraksi dan merayakan keberagaman. Sekolah ibarat perahu perdamaian dan pendidik adalah sampan yang akan membawa dan menumbuhkan kedamaian. Pendidik mengajarkan perdamaian melalui transformasi streotipe, mengurangi prasangka, mengubah kebencian, mencegah kekerasan, mengubah perilaku politik, mendorong kerjasama, dan mengkonfrontasi diskriminasi.

Mander dan Lester melaporkan peningkatan signifikan dalam depresi, kecemasan, gejala emosional dan hiperaktif serta penurunan signifikan pada perilaku prososial. Hal ini sejalan dengan fakta seperti streotypes, stigma, sosial gender dan norma yang mempengaruhi pembentukan mental dan karakter anak. Komisi Perlindungan Anak Nasional menemukan 67 persen kasus kekerasan terjadi di jenjang SD/sederajat dan ada ribuan kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia setiap tahunnya. Oleh karena itu, hal yang terpenting adalah menjadikan sekolah sebagai wahana untuk mengasah ketajaman dan kepekaan akan lingkungan sosial yang berbeda-beda.

Di dunia sekarang ini budaya perdamaian adalah esensi baru dari kemanusiaan, peradaban global, yang didasarkan pada keberagaman. Berkembangnya budaya damai akan membangkitkan pola pikir yang merupakan prasyarat kekuatan akal. Budaya damai akan memberikan landasan kuat dunia stabil, maju dan sejahtera. Budaya damai menjadi kebutuhan dunia saat ini. Hal ini terbukti ketika kita merenungkan bagaimana peradaban kita telah mati, dari waktu ke waktu manusia telah di liputi oleh kelemahan, keserakahan, egoism, ambisi dan xenophobia (ketakutan terhadap perbedaan). Kita sering melihat tindakan keji yang dilakukan oleh segelintir pelayan publik, pemimpin yang berkuasa baik dengan alasan politik, ekonomi, militer bahkan agama.

Cara paling signifikan untuk mempromosikan budaya damai adalah melalui pendidikan perdamaian, pendidikan perdamaian perlu di terima oleh semua elemen masyarakat sebagai unsur penting dalam menciptakan perdamaian. Kita membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk menciptakan dan memelihara kedamaian untuk diri pribadi secara khusus dan dunia pada umumnya.

Pendidikan perdamaian tidak hanya belajar tentang konflik dan bagaimana menyelesaikannya dengan damai, tetapi harus mampu melibatkan partisipasi peserta didik dalam mengekpresikan ide dan meredam kekerasan. Pendidikan perdamaian bermakna dengan memperkaya nilai budaya, spiritual dan kemanusiaan yang universal. Pendidikan perdamaian yang terprogram, terencana, sistematis dan bekelanjutan harus menemukan cara yang non-agresif untuk menciptakan budaya damai.

UNICEF mendefenisikan pendidikan perdamaian sebagai pengetahuan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan perilaku yang memungkinkan anak-anak, remaja, dewasa untuk mempromosikan pencegahan konflik dan kekerasan baik secara terbuka maupun struktural, untuk menyelesaikan konflik secara damai, dan untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi perdamaian baik di tingkat interpersonal, antar kelompok, nasional atau internasional.

Mengajar nilai toleransi, pemahaman dan rasa hormat terhadap perbedaan pada anak-anak sekolah dapat diperkenalkan dengan menjelaskan kepada mereka tentang dunia secara geografis, sejarah, dan budaya. Kurikulum harus mencakup hak asasi manusia, peraturan internasional, piagam PBB, tujuan organisasi global, pembangunan berkelanjutan dan masalah perdamaian.

Sekolah adalah saluran perdamaian dan pendidikan perdamaian adalah hak asasi setiap warga Negara. Pendidikan membentuk anak didik yang toleran, cinta damai dan mampu menerima perbedaan. Mengajarkan perdamaian tidak hanya mentransformasikan pengetahuan tetapi menciptakan sumber pengalaman baru yang membentuk budaya damai. Proses pendidikan harus mampu menghasilkan generasi yang sadar akan kondisi masyarakat yang beranekaragam. Mampu menghindari terjadinya konflik merupakan impian terciptanya suasana damai bukan utopis. Oleh karena itu perlu memastikan kelas inklusif dan ramah anak.

Pendidik memiliki peran sentral sebagai agen perdamaian di sekolah. Dalam menjalankan peran tersebut membutuhkan pengetahuan tentang hak-hak anak, keterampilan pedagogik dan kemampuan memfasilitasi ruang dialog. Hal ini banyak menjadi hambatan kita dalam mendidik budaya damai karena keterbatasan dalam hal pengetahuan dan keterampilan.

Tantangan dalam implementasi pendidikan perdamaian disekolah menjadi masalah nasional karena belum menjadi prioritas utama pemerintah. Tantangan besar yang kita hadapi saat ini adalah mengharuskan kita untuk bekerjasama secara global menuju perdamaian dunia dan ini hanya akan berhasil jika dibangun atas dasar kepercayaan, dialog dan kolaborasi. Untuk itu membangun budaya perdamaian membutuhkan upaya yang besar serta keterlibatan secara pro aktif seluruh segmen mulai yang muda hingga tua untuk mengambil peran secara pro aktif.

Tantangan lain dalam dunia pendidikan saat ini adalah kurikulum kita belum kooperatif dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik. Pendidikan kita masih dibatasi oleh pembelajaran tradisional yang memandang kemampuan peserta didik dalam konteks persaingan dalam hal penilaian kuantitatif. Pendidikan perdamaian membutuhkan pendekatan multiaspek yang berbasis pengetahuan, keterampilan hidup, dan nilai etika dan bertanggungjawab.

 

Pendidikan adalah proses yang terus menerus tentunya untuk tetap menjaga budaya damai maka pendidikan perdamaian harus diberikan pada setiap level pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pembelajaran tentang perdamaian harus disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang peserta didik. Setiap aspek pendidikan yang meliputi siswa, guru, kurikulum, pemerintah, dan masyarakat harus mendukung terwujudnya perdamaian.

Copy link
Powered by Social Snap