UIN Alauddin Makassar

” Kado Tahun Baru Istimewa dari Tuhan “

Pagi ini ada rasa tak biasa: tenang, santai dan tanpa beban seperti merasakan libur panjang meski saat melihat kalendernya bukan tanggal merah. Sambil duduk menyeruput hangatnya teh buatan sendiri, saya terhenti pada whats app group dan membaca Renungan akhir tahun dari dua sosok yang selalu menginspirasi, beliau adalah professor Melawan takdir dan professor Bermartabat. Tulisan beliau selalu menjadi pemantik untuk berdiskusi dan kali ini tentang bagaimana memaknai peristiwa sepanjang tahun 2019 yang menjadikannya sebagai proses berfikir dan belajar. Belum banyak yang sempat saya baca dua kendaraan telah siap menjemput membunyikan klakson siap berangkat.

Dengan kecepatan rata-rata 60 kilometer per jam rush melaju santai mengelilingi pengunungan camba maros menuju kabupaten Bone. Sejenak sambil berbincang santai ditengah diskusi hangat tetiba perasaan haru muncul saat menikmati indahnya suasana hijau pegunungan dan segarnya udara pagi. Ku coba menarik nafas panjang dan dalam, kutemukan rasa syukur yang luar biasa menyelimuti hati dan pikiran ini.

Renungan pagi sang professor menyadarkanku betapa hidup adalah tentang bagaimana memaknai perjalanan. Masih jelas dalam  ingatan proses bergelut dengan dokumen-dokumen pencalonan diri untuk menduduki salah satu posisi di fakultas. 15 tahun belajar dan bekerja memimpin sekolah, program studi, fakultas hingga menjadi founder Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas/YPMIC (www.ypmic.or.id) adalah pengalaman berharga yang Tuhan berikan dengan jalan-jalan kemudahan “Fabiayyi ala i rabbkuma tukazziban”.

“Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”,  Ayat yang 31 kali di ulang dalam surah Ar-Rahman yang hanya Allah yang tahu maknanya. Betapa besar nikmat yang patut kita syukuri hari demi hari meski kadang kita lupa tapi Allah tak pernah sedetikpun lupa memberi nikmatnya dalam kehiidupan kita. Ayat ini menjadi refleksi diri saya betapa Allah adalah sebaik-baik yang merencanakan jalan hidup manusia.

Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Satu tahun terakhir berjibaku dengan aktifitas peningkatan status Akreditasi Universitas selalu dianggap berat namun tidak demikian bagiku, dengan kesungguhan dan keikhlasan hati kita bekerja demi Akreditasi A hingga terwujud. Periode kepemimpinan pun berganti dan Allah memberikan kita waktu untuk jeda dari rutinitas yang tak pernah berhenti 1x 36 jam (baca begadang dan lembur) itu bukan lagi hal yang tak biasa.

Karena hidup butuh jeda, ini kalimat yang tepat rasanya bagi saya. Meski waktu takkan pernah berhenti bergerak untuk mengajak kita bertemu dengan masa depan namun janganlah takut untuk berhenti sejenak sekedar duduk diam dan mengajak kembali otak berfikir perlahan bagaimana cara berjalan cepat dan berlari kuat dan kencang. Berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang, merefleksikan diri, melihat ke belakang tentang apa yang telah dilakukan dan menata diri untuk melakukan hal yang lebih baik adalah sebuah kado istimewa dan mewah dari Tuhan untuk kita yang patut kita syukuri, nikmati dan jalani dengan sebaik-baiknya.

Terima kasih untuk semua orang-orang hebat yang selalu membersamaiku, kalian yang mengajarkanku bagaimana rasanya suka, duka, marah, kecewa, senang, riang, tangis dan tawa menjadi sumber kekuatan yang selalu menjadikanku pribadi yang kuat ditengah terpaan badai dan gelombang. Terima kasih untuk waktu  yang selalu menciptakan moment bahagia, pengalaman serta perjalanan yang jauh. Perjalanan menapaki hari ini terasa sangat jauh karena bisa ku lalui bersama kalian. Untaian doa dan harapan senantiasa terkirim indah dengan 10 jejari tengadah dan memohon semoga semua akan kembali pada kita yang saling mendoakan.

 

Ya Tuhan terima kasih betapa luas kasih sayangmu padaku  atas waktu luang yang engkau berikan di saat yang tak pernah ku bayangkan. Waktu yang panjang namun ternyata hilang selama ini ditutupi dengan hiruk pikuk aktifitas yang tak kunjung berujung. Semua atas dasar tanggungjawab waktu itu seolah tak pernah cukup 1 hari 24 jam, jabatan seolah selalu menjadi alasan untuk waktu yang tak pernah ada bagi mereka yang selalu menantikan kehadiran kita. Ada rasa yang tak bermakna dan ada makna yang tak terasa. Terima kasih untuk akhir tahun yang senantiasa memberikan kita waktu untuk merenung. Terima kasih Tuhan atas Kado Istimewa di akhir tahun ini. Kamu memberiku waktu luang untuk jeda.

Copy link
Powered by Social Snap