UIN Alauddin Makassar

” Era Pengobatan ke Era Kesadaran Spiritual “

Era Revolusi Industri 4.0 dan era Society 5.0 merupakan isu global yang menghiasi seluruh aktifitas kehidupan manusia modern saat ini. Kesehatan merupakan aspek yang turut bergeliat dalam mengembangkan layanan berbasis revolusi industri 4.0. Big data, artificial intelengence, Internet of Thing telah mengubah wajah layanan kesehatan saat ini. Namun kehadiran Era Society 5.0 ingin menyadarkan kita  bahwa kehidupan manusia tidak cukup dengan perubahan secara fisik dengan tekhnologi tetapi ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan interaksi satu dengan lainnya. Tekhnologi dan robotika  bisa menggantikan peran fisik manusia tetapi  tidak bisa menggantikan peran pikiran dan spirit/soul yang membuatnya menjadi satu kesatuan yang utuh.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Demikianlah Allah menyebutkan dalam salah satu ayatnya. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang terbaik bentuknya yang dimuliakan Allah, terdiri atas jasad, ruh, dan psikologis. Hakekat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, diciptakan dalam bentuk paling sempurna. Manusia adalah makhluk spiritual yang akan menjalani fase-fase peristiwa kehidupan baik sebelum lahir, setelah lahir maupun setelah mati. Sebagai makhluk spiritual fitrah manusia menginginkan “kesatuan dirinya” dengan Tuhan, karena itulah pergerakan dan perjalanan hidup manusia adalah sebuah evolusi spiritual menuju dan mendekat kepada Sang Pencipta.

Tujuan mulia mendekatkan diri dengan sang pencipta akan mengarahkan dan mengaktualkan potensi dan fitrah tersembunyi manusia untuk digunakan sebagai sarana mencapai “spirituality progress”. Sebagai makhluk holistik manusia dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan, baik fisik, psikologis, sosial maupun spiritual.

Nicolaus D. dan A. Sudiarja mengatakan bahwa manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karna jasmani dan rohani merupakan satu kesatuan utuh.  Oleh karena itu proses penyembuhan manusia harus memperhatikan ketiga hal tersebut. Jika kita melihat perkembangan pengobatan modern di dunia barat saat ini proses pengobatan dan penyembuhan manusia mengalami pergeseran era yang menuju pada era baru yaitu era transpersonal.

Pada Era I pada tahun 1860 dikenal dengan era pengobatan fisik. Pada era ini  pendekatan kesehatan dan penyakit semakin ilmiah. Penyakit diyakini disebabkan oleh faktor determinan yang disebabkan oleh ruang dan waktu. Fokus pengobatan pada era ini adalah menggabungkan obat-obatan, perawatan dan tekhnologi, dimana kesadaran seseorang di anggap sebagai produk secara anatomi dan fisiologi otak. Pada era ini pikiran bukan merupakan faktor utama asal usul kesehatan dan penyakit tetapi hasil dari mekanisme kerja otak manusia. Oleh karena itu segala bentuk terapi berfokus pada tubuh manusia seperti obat-obatan, herbal, operasi, radiasi, bahan-bahan kimia, dll.

Pada Era II yang dimulai sejak tahun 1950-an di kenal dengan era Pengobatan Body-Mind. Kesadaran seseorang (emosi, kepercayaan, pikiran, makna dan sikap) memberikan efek penting terhadap perilaku tubuh dan fisik seseorang. Pikiran adalah faktor utama dalam penyembuhan seseorang. Pikiran mempunyai kekuatan sebab-akibat yang tidak semua dapat dijelaskan secara fisik dan ilmiah tetapi dapat melampaui era pengobatan secara fisik pada era I. pikiran mempunyai kekuatan sebab-akibat yang menekankan efek kesadaran pada tubuh individu. Pendekatan psikoneuroimunologi, konseling, hypnosis, biofeedback, terapi relaksasi ataupun terapi lainnya dapat di gunakan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran seseorang. Oleh karena itu perkembangan pengobatan dan penyembuhan pada era ini banyak menggunakan terapi alternatif non invasif dan non kimia.

Pada Era III ini di kenal dengan Era baru dan paling maju dengan perkembangan sains (pengobatan Transpersonal). Pada era ke III kesadaran tidak terikat pada tubuh individu saja. Pikiran individu tersebar diseluruh ruang dan waktu, tak terbatas, abadi dan akhirnya menjadi satu. Pada era ke III terapi melibatkan kesadaran manusia dalam menciptakan jembatan antara individu yang berbeda, seperti penyembuhan jarak jauh/telesomatik  dengan cara doa, syafaat, mukjizat dan yang pasti melibatkan emosi (cinta, empati, belas kasih). Doa, meditasi, perenungan yang tenang serta kehadiran seseorang/terapis dengan tekhnik terapeutik dapat meningkatan kekuatan jiwa yang mampu mempengaruhi sistem tubuh secara fisik. Pendekatan penyembuhan pada era III melibatkan pengalaman transpersonal dan bagaimana menghadirkan seseorang menuju ke pengalaman diluar diri individu sendiri. Penyembuhan transpersonal melibatkan pikiran sebagai faktor yang baik dan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Transpersonal merupakan terapi yang dapat dilakukan dimana efek kesadaran menjembatani antara orang yang berbeda.

Abraham Maslow menjelaskan bahwa manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Namun menjelang akhir hayatnya, Abraham Maslow menyadari dan menemukan adanya kebutuhan yang lebih tinggi lagi pada sebagian manusia tertentu, yaitu yang disebut sebagai: kebutuhan transcendental. Berbeda dengan kebutuhan lainnya yang bersifat horizontal (berkaitan hubungan antara manusia dengan manusia), maka kebutuhan transcendental lebih bersifat vertikal (berkaitan dengan hubungan manusia dengan Sang Pencipta).

 

Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa dimensi spiritual merupakan aspek yang dimiliki setiap manusia yang menyatu dan universal. Dimensi ini mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Konsistensi spiritual akan melahirkan konsep diri positif, keberanian, rasa percaya diri, ketenangan jiwa terhadap berbagai permasalahan hidup. Oleh karena itu manusia patut menyadari betapa Allah menciptakan manusia sebagai mahluk sempurna yang memiliki kekuatan besar untuk dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Demikianlah Allah mengajarkan kita untuk dekat dengannya dalam keadaan sakit dan penyakit maupun sehat dan kesembuhan agar kita menyadari dan merasakan kedekatan dan kasih sayang-Nya.

Copy link
Powered by Social Snap