UIN Alauddin Makassar

“ Dualitas Otak Memaknai Konflik Vs Damai “

Alam semesta membantu kita memahami bagaimana berperilaku. Otak memiliki komposisi 2,5% dari tubuh yang memiliki kendali penuh atas seluruh jaringan tubuh. Oleh karena itu otak mengkonsumsi energy per gram per detik untuk mempertahankan diri daripada organ lain. Untuk memastikan bahwa keberlangsungan planet ini (bumi), kita harus menyadari bahwa kita semua adalah anggota yang saling berhubungan di alam semesta yang hidup. Hooper dan Dick Teresi membandingkan otak manusia dengan alam semesta dan menemukan bahwa otak adalah alam semesta sesungguhnya.

Richard Restak M.D dalam buku “The Brain”mengatakan bahwa otak manusia mampu menyimpan informasi lebih banyak dari seluruh perpustakaan di dunia. Otak memiliki kekuatan paling besar untuk membuat keputusan untuk seluruh tubuh tetapi otak harus bertindak secara holistik dan kreatif untuk menjaga kesejahteraan dan umur panjang dari seluruh organ/jaringan tubuh yang lain demikian pula dengan kehidupan manusia.

Manusia memiliki otak kanan dan otak kiri yang memproses informasi berbeda. Otak kanan merasakan dan memproses informasi secara nonlinear sementara otak kiri merasakan dan memproses informasi secara lebih teratur dan linear. Membagi otak kanan dan kiri bukanlah pendekatan holistik tetapi konstruk. Otak kanan cenderung untuk jeli, tidak menghakimi, holistik, feminism dan spiritual sementara otak kiri bersifat analitis, menghakimi, reduksionis, maskulin dan materialistis.

Pergeseran persepsi dari linear ke nonlinear adalah perpindahan dari self assertive ke integrative, rasional ke intuitif, konsumtif ke konservatif, kompetisi menjadi kerjasama, kuantitas menjadi kualitas, dominasi menjadi kemitraan, reduksionis menjadi holistik, dan kekakuan menjadi fleksibilitas. Hal ini juga mengajarkan kita bagaimana kita dapat mengubah pemikiran negative menjadi positif, menyalahkan menjadi memaafkan, marah menjadi toleran, balas dendam menjadi kedamaian, dan keputusasaan menjadi harapan.

Pemikiran nonlinear memberikan kerangka kerja penuh harapan, kreatif, damai, harmonis, secara ekologis untuk menghadapi dunia yang semakin kacau, nonlinear dan digital terintegrasi. Kombinasi teori nonlinear, ilmu kognitif, neuropsikologi, ajaran spiritual dimana mengakui kekuatan dan keterbatasan persepsi otak kanan dan kiri. Sirkuit otak berfungsi untuk mengaktifkan ingatan manusia untuk bertahan hidup dan berfikir linear.

Kita semua sadar dan berfikir nonlinear melihat setiap mahluk hidup saling tergantung satu sama lain. Tingkat perubahan dan kekacauan eksponensial yang menandai era digital menunjukkan kekacauan pikiran dengan mekanisme bertahan, rasa takut, bersalah, marah, negative, kekerasan menyebabkan menurunnya kualitas pemrosesan informasi di otak.

Sementara persepsi nonlinear akan menyambut kekacauan era digital sebagai unsur penting untuk membentuk tatanan baru dalam masyarakat dengan perdamaian, kepositifan, harapan, manajemen asset dan kreatifitas. Khawatir tentang masa lalu atau masa depan menghalangi kita untuk memberikan perhatian penuh dan fokus untuk menghadapi masa kini dan menghalangi kemampuan kita untuk fokus pada otak yang kreatif menghadapi tantangan dunia digital yang cepat berubah.

Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan dalam menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan sehingga kita mampu menghadapi setiap persoalan dan masalah kehidupan dengan bijak dan penuh kedamaian. Keyakinan dan pengalaman spiritualitas merupakan semangat akan kecerdasan yang lebih tinggi di alam semesta.

Kepercayaan spiritual merupakan jalinan alam semesta yang terbuat dari cinta tanpa tanpa syarat dan manusia memiliki tugas untuk mengenalinya. Era digital mengubah aktivitas manusia menjadikannya lebih linear dan lebih rentan terhadap kekacauan tetapi disisi lain mengurangi derajat pemisahan dari manusia untuk membuat kita lebih dekat dan lebih erat bersama demi menjaga kedamaian.

 

Pemikiran nonlinear mengurangi harapan dan karakteristik menghakimi serta menunjukkan cinta tanpa syarat sebagai nilai etis dan prinsip panduannya. Dimana nilai etis dan prinsip dalam kerjasama, kemitraan, tanpa penilaian dan tanpa harapan. Sebagai contoh cinta tanpa syarat yang diberikan bumi kepada manusia, bumi memberikan manusia tumpangan yang lancar dengan tata surya setiap 365 hari memberikan semua yang kita butuhkan tanpa harapan. Cinta tanpa syarat adalah pengalaman manusia yang paling menyenangkan dan merupakan puncak dari bagian emosional dari proses kognisi.

Copy link
Powered by Social Snap