Webinar Tokoh Agama: Perkuat Solidaritas Lintas Iman di Tengah Pandemi

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Pandemi Covid-19 merupakan momen penting untuk semakin memperkuat solidaritas antar umat beragama. Pesan semua agama yang mengajarkan kebaikan merupakan dasar bagi setiap umat beragama agar saling membantu kepada sesama.

Berdasarkan hal tersebut, Lembaga Advokasi & Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan OASE INTIM menggelar Webinar Bersama Tokoh Agama bertema “Pandangan Teologi dan Pelayanan Komunitas Agama terhadap Bencana Pandemi Covid-19” via zoom meeting pada Jumat (22/5/2020).

Webinar ini menghadirkan enam narasumber yakni, I Made Sukarta (PHDI Kota Makassar), Pdt. Lidya (DPD PWKI Sulsel), Prof. Abdul Rahim Yunus (Ketua FKUB Sulsel), Sr. Anita Sampe (Kongregasi Suster suster Jesus Maria Joseph), dr. Erfan Sutono (PAKIN Sulsel), dan Dr. Yongris Lao (Ketua Permabudhi Sulsel), serta dimoderatori oleh Megawati (Staf LAPAR Sulsel).

Sebagai pembicara pertama, Yongris Lao memantik kesadaran kita tentang alasan manusia untuk saling bersolidaritas, terlebih dalam situasi pandemi.

“Kenapa kita harus bersolidaritas? karena hidup itu sangat berharga untuk diisi dengan hal positif. Kemudian kita wajib untuk menjaga kehidupan ini, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sang Buddha. Solidaritas juga memuat dua nilai yang sangat penting yakni cinta dan empati,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Pdt. Lidya memaparkan dasar dari solidaritas adalah kasih yang inklusif pada semua latar belakang identitas.

“Dalam situasi ini, Gereja benar-benar memperlihatkan bahwa mereka berada dalam keterhubungan dengan masyarakat. Akuntabilitas Gereja harus ada di tengah masyarakat sebagai wujud kebertanggungjawaban gereja bagi kehidupan bersama. Semua ini berdasarkan pada kasih yang inklusif pada semua latar belakang identitas,” paparnya.

Dari perspektif Islam, Prof. Rahim Yunus mengajak semua umat beragama untuk tidak bersikap fatalis dan berputus asa, serta senantiasa menganggap pandemi sebagai ujian untuk mengoreksi diri, apakah kita sudah menggunakan akal dengan baik.

Lebih lanjut, ia mengimbau agar umat beragama mengikuti anjuran pemerintah untuk melaksanakan ibadah di rumah sebagai wujud solidaritas.

“Terkait dengan corona ulama kita mengeliarkan fatwa hindari dulu berkerumun dengan tidak beribadah di masjid. Tujuannya ini untuk melindungi jiwa kita semua dan menghindarkan orang lain dari marabahaya,” katanya.

Solidaritas merupakan perwujudan cinta kepada Yang Maha Kuasa dan manusia, sama-sama diutarakan oleh Suster Anita, Erfan Sutono, dan I Made Sukarta. Menurut mereka, kebaikan itu melampaui sekat antar agama-agama.

Penulis: Muh. Hasim Arfah         

Editor: Imam Wahyudi

Source: TRIBUN-TIMUR.COM

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap